Senin, 23 November 2015

Soal Kimia beserta pembahasan (1)

01. Suatu larutan gliserin, C3H5(OH)3 dibuat dengan melarutkan 45 gram senyawa tersebut dalam 100 gram air, jika Ar C= 12, O = 16 dan H = 1 maka molalitas gliserin dalam larutan tersebut adalah….
(A) 8,01
(B) 4,89
(C) 31,0
(D) 0,31
(E) 0,081

Pembahasan
Massa gliserin= 45 gram
Massa air= 100 gram
Mr C3H5(OH)3=92
Molalitas = 45 x 1000 = 4,89
92 x 100

02. Jika larutan CH3COOH 30 % memiliki masa jenis 1,04 x 9 cm-3, (Mr CH3COOH = 60), molaritas larutan CH3COOH tersebut adalah….
(A) 5,45
(B) 5,20
(C) 4,00
(D) 2,72
(E) 2,60
Pembahasan
Massa CH3COOH= 30 gram
Mol CH3COOH= 0,5
Volume larutan 100 x 1,04 x 9 cm-3 =



03. Tentukan uap jenuh air murni pada suhu 300 C adalah 31,8 mm Hg. Jika fraksi mol air 0,6, maka penurunan tekanan uap jenuh larutan tersebut adalah….
(A) 3,18 mmHg
(B) 9,54 mmHg
(C) 12,72 mmHg
(D) 19,08 mmHg
(E) 25,44 mmHg

Pembahasan
Fraksi zat terlarut (xa) = 1- 0,6= 0,4
Penurunan tekanan uap= fraksi zat terlarut x tekanan uap awal (Pa0)
= 0,4 x 31,8 mm Hg = 12,72 mmHg


04. Sebanyak 45 gram glukosa (Mr = 180) dilarutkan ke dalam 100 gram air. Jika Kb air = 0,52 0C/molal, maka titik didih larutan glukosa tersebut adalah….
(A) 1,040 C
(B) 1,30 C
(C) 100,520 C
(D) 101,040 C
(E) 101,30 C

Pembahasan
m = 45gram x 1000 = 2,5
180 x 100
∆ Tb = Kb x molalitas (m)
= 0,52 x 2,5 =1,300 C


05. Penurunan titik beku larutan 28 % berat KOH , Mr = 56, di mana Kf air 1,80C/m adalah….
(A) -25 0C
(B) -12,5 0C
(C) 12,5 0C
(D) 25 0C
(E) 50 0C

Pembahasan
28% KOH dalam larutan berarti massanya = 28 gram
Massa larutan = 100 gram
Molalitas= 28 x 1000 = 5 m
56 x 100
∆ Tf = Kf x m
= 1,8 x 5 = 9




06. Sebanyak 0,01 mol magnesium klorida dilarutkan ke dalam air sampai volume 500 ml. Jika harga derajat ionisasi = 0,8 tekanan osmotik larutan jika diukur pada suhu 270C dan harga R= 0,08 L.atm. Mol-1.K-1 adalah….
(A) 0,48 atm
(B) 0,864 atm
(C) 0,986 atm
(D) 1,248 atm
(E) 2,48 atm

Pembahasan
MgCl2 Mg2+ + 2Cl-
Tekanan osmotic ion= π = MRT( 1+(n-1) α)
M = 0,05 x 1000ml = 0,1 molar
500ml
T = 270 + 273=543 kelvin
α= 0,8
π = 0,1 x 0,8 x 543 ( 1+(3-1) 0,8)
= (dapat dihitung sendiri)

Tragedi Terminal

Dua orang berpakaian jaket jeans dan celana berlubang pada lutut khas preman mengendap ngendap di depan toilet terminal yang . Dengan perlahan –lahan mereka menghampiri pria berkemeja putih dan berdasi hitam yang sedang mencuci tangannya di washtafle . Salah satu dari preman itu mengeluarkan pistol dari saku celananya dan mengarahkan ke pria berkemeja putih.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di sudut lorong. Ternyata ada seorang pemuda yang diam-diam memperhatikan dua orang preman tersebut , tetapi karena kurang hati-hati ia menjatuhkan sebuah tong sampah. Jantung pemuda yang berpakaian seragam putih abu-abu itu berdetak dengan cepat. Ia menempelkan tubuhnya ke dinding dan berharap dua preman tadi tidak mengetahuinya.

Karena terkejut , pria berkemeja putih menengok ke arah belakang. Ketika ia melihat dua orang preman menodongkan pistol ke arahnya, tubuhnya menjadi gemetar, dan perlahan mulai mengangkat kedua temannya.

“Cepat kau periksa tong sampah yang jatuh itu!” perintah seorang preman kepada temannya. “ Baik Bang!”.

Dengan perlahan si preman menuju ke sudut lorong.

“Siapa kamu?!” Tanya preman kepada pemuda tersebut. “ Sa… saya… Gi…Gilang… Om”.

“ Oh, kamu yang namanya Gilang, jangan khawatir kami dari kepolisian. Mari ikut kami ke kantor.”

Kedua orang yang berpakaian preman tersebut ternyata adalah polisi. Mereka berusaha menangkap basah copet yang ada di terminal. Penyamaran itu atas perintah komandan mereka yang mendapat saran dari keponakannnya.

“ Silahkan duduk Gilang.” “ terima kasih Pak.”. “ Kamu kenal keponakan saya, Leo?” . “ iya Pak, dia teman dekat saya.”. “ terima kasih , kalau bukan karena ide yang kamu ceritakan ke Leo, mungkin kami tidak akan pernah menangkap pecopet yang sering membuat onar di terminal. Tetapi bagaimana kamu mendapatkan ide itu?”

Selama kurang lebih 15 menit, gilang menceritakan bagaimana ia mendapat idenya. Berawal ketika ia pulang sekolah…….

“Longgar….longgar…longgar…” suara kernet bus berteriak.

“Longgar apaan, dasar!!” gumam Gilang, tapi mau tidak mau ia harus segera pulang. Ia terpaksa berdiri karena tempat duduk sudah terisi semua.

Di dalam bis Gilang merasa seperti di tengah kerumunan orang demo. Ditambah lagi tukang asongan yang nekat menawarkan dagangan melewati penumpang yang berdiri. Di depannya ada wanita gemuk memakai baju merah jambu yang usianya sekitar 40 tahun . Wanita itu membawa tas berwarna putih merek ternama.

Entah kenapa setiap bis berhenti mata Gilang tertuju pada tas ibu berbaju merah jambu itu. Tetapi setiap Gilang melhhatnya resleting tas ibu itu terbuka ,dan semakin lama semakin melebar. Dalam otaknya Gilang membayangkan bahwa Ibu itu bisa saja dompetnya diambil kalau di posisinya berdiri adalah rang lain.

Ketika turun dari bus ia melihat ibu yang berada tepat di depannya tadi panik dan berteriak histeris.

“ dompetku hilang….hilaaang.”

Gilang merasa aneh, padahal hanya dia yag berada tepat di belakang ibu itu. Untuk menghindari fitnah bahwa ia adalah pencopet, ia segera menaiki angkot yang menuju rumahnya. Di dalam angkot Gilang mendengarkan sopir angkot yang sedang berbicara pada penumpang di sebelah kemudi. Sopir itu menceritakan tentang seringnya kasus pencopetan di dalam bus. Anehnya, tidak ada yang mengetahui siapa pelakunya meski sudah tiga bulan kejahatan itu berlangsung.

Karena merasa penasaran dan terobsesi untuk menangkap pecopet, semalaman ia membuat rencana untuk menangkap sang copet.



Keesokan harinya setelah pulang sekolah Gilang mempersiakan jebakannya. Walaupun seikit ngantuk ia bersikeras ingin rencananya berhasil. Dompetnya sengaja tidak ia masukkan kedalam kantong crlana belakang dalam-dalam. Dan suasana bis sore itu ramai, hampir sama saat ibu berbaju pink kemarin kecopetan.

Dari masuk sampai keluar bis, ia tidak merasa dompetnya terambil. Sialnya, ketika ia turun dan merogoh saku celana ternyata dompet Gilanng tidak ada. Ia terduduk lesu di depan halte. Selama setengah jam ia merenung, pandangannya kosong tapi otaknya berpikir keras.

“ bagaimana mungkin? Kapan? Siapa pelakunya?”

“ sedang apa kau?” tanya seorang pemuda berseragam yang sama dengan gilang, dia bernama Leon.

“ aahh, ternyata kau. Aku kecopetan..”

“kecopetan? Dimana?”

“di bis. Padahal aku sudah mempersiapkan jebakan untuk pecopet itu.”

“ hahaha… jebakan? Gimanamu menjebak pecopet?” tanya Leo setengah meledek.

“ aku menjahit dompet di saku celana, agar ketika ada yang mengambil maka akan terasa olehku, dan segera kuhajar orang itu!!” katanya jengkel.

“ oke..oke…. apa di dompetmu ada uangnya?”

“ sayangnya, iyaa.. tapi aku masih punya rencana untuk menangkapnya..”

“ ni anak nggak kapok-kapoknya! Dasar! Ya udah, gimana sih rencana balas dendammu itu?”

“ intinya sama, mencari pelakunya. Tapi tidak menggunakan benang, melainkan menggunakan…..

Tinta.”

“tinta?”

“iya, karena dompetnya berlumuran tinta maka pelakunya akan membasuh tangannya di kran atau washtaffle yang ada di terminal, dengan itu aku bisa mengetahui pelakunya.”

Dua sahabat itu melanjutkan pembicaraan dengan topik yang lain.